Sunday, September 14, 2008

menjadi istri

apakah menjadi istri sama dengan harus tinggal di rumah dan mengurus anak saja..?
apakah menjadi istri berarti kita tidak boleh melakukan hal2 yang kita suka?
apakah menjadi istri berarti selalu membahagiakan suami tanpa mengharapkan hal yg sama?
apakah menjadi istri berarti selalu mengiyakan perkataan suami tanpa bertanya sedikitpun?
apakah menjadi istri berarti terkekang ?
apakah menjadi istri sama dengan tidak punya hak untuk bahagia?

bukankah kita menikah untuk menambah kebahagiaan, untuk berbagi dengan orang yang kita kasihi dan bukan untuk terkekang dan tidak bahagia.

aku menyesal karena ada teman yang sayangnya sejak menikah jadi tertutup dengan dunia luar, hidupnya hanya disibukkan dengan suami dan anaknya sementara dia juga berhak menikmati hidupnya dengan hal2 yang membuatnya bahagia...

menantu dan mertua

Beberapa tahun yang lalu (kalo ga salah taun 2002) aku pernah deket sama cowok namanya Vicky. Vicky lulusan Sma tp waktu itu ga kuliah, cuma dia punya perpustakaan. Kita kira2 seumuran, ga sengaja dikenalin temen kuliah yg kebetulan temen sekolahnya Vicky dulu. Ceritanya kita jadi deket, naksir2an gitu. Aku udah 80 % yakin kalo kita bakal jadian sampe suatu ketika (setelah beberapa bulan en beberapa date) tiba tiba Vicky menghilang, tak ada kabar, tak ada telpon, dihuungi juga susyeh. Sampe akhirnya kita berhasil ketemuan, aku yg penasaran langsung nanya ada apakah sebenernya..?? Dia bilang kalo kita ga bisa ketemuan lagi, ga bisa nge-date lagi karena ibunya ga suka sama aku en ga suka kalo aku jalan sama anaknya.........glodhak....aku bagai jatuh dari dipan. Kaget dong lha wong ketemu ibunya aja cuma sekali itupun ga ngobrol2 cuma kenalan doang, trus she doesn't even know me lha kok enaknya bilang kalo ga suka aku tanpa alasan yang jelas. Vicky bilang dia musti nurut ibunya karena insting ibu itu kuat dan dia pengen bahagia. Aku sih meski ga begitu terima tp juga ga mau memohon2, plis deh.
Setelah itu aku jadi mikir, apa yang salah sama aku. Lha wong kalo diliat2 yg loser itu lho ya si Vicky itu. Masa cowok 22 taun kerjaannya jaga perpustakaan, sementara aku udah hampir kelar kuliah, punya kerja sambilan. Trus ibunya itu lho kok ngerasa tinggi banget sampe nolak2 aku, emang dia siapa...tuh kan jadi emosi. Aku jadi napak tilas, dari mantan2 pacar2ku siapa yg iunya ga suka sama aku....setauku sih ga ada, rata2 mreka biasa2 aja, makanya apa gitu yg salah. Whatever, sejak itu aku jd ati2 banget yg namanya ibu2 pacarku takutnya misjudge ky ibu si Vicky. Takutnya kadung serius eh ibunya ga asik, emang enak punya mertua ga asik.
Untungnya ibu mertuaku baiiikkk banget, selalu positif thinking, tidak pernah menilai orang secara sepihak dan selalu ingin anak2nya bahagia. And that's mean that there's nothing wrong with me, emaknya si Vicky aja yg kurang kerjaan ngurusin anak muda.
Jadi kesimpulannya aku bersyukur banget ga pacaran sam Vicky, so not worth it. O iya, terakhir sih aku taunya dia masih kuliah (23 taun semester 1 jadi kira2 sekarang lagi skripsi, itu juga kalo beruntung...cuih)

Thursday, September 11, 2008

ngeri liat anak jaman sekarang

aku ngeri liat anak jaman sekarang, jarang yg punya tata krama. Ga tau apa karena jaman udah beda ato karena pengawasan orang tua yang kurang. Ini bukan hanya tentang anak2 di Belanda, tapi juga di Indo. Jaman aku Sma dulu, mana brani pake kaos ketat ke sekolah. Anak sekarang acara sekolah dandannya abis2an, kenal pake gaun2 sgala...idih...kaya mau ke kawinan aja dandannya. Whatever deh, mungkin karena belum ngrasain jadi ortu makanya aku enak aja ngomong tapi kalo ntar aku punya anak puber, mreka ga bakal dpt TV ato komputer di kamar sampe umur 16. Ga boleh punya hewan piaraan kalo ga bisa ngurusin sendiri, tapi mreka juga diberi kebebasan asal bertanggung jawab. Salah satu kebebasan yg akan kami berikan adalah, mreka bebas memilih agama mreka sendiri. Bukankah beragama adalah hak asasi, tapi kita selalu dikondisikan untuk memiliki agama sesuai dengan agama orang tua kita...tidak diberi kesempatan untuk mempelajari lalu memilih dan bertanggung jawab pada pilihan kita. Sekarang jadi aku yg mengerikan kedengarannya, tidak ada orang yg aku kenal yg akan memberi kebebasan anaknya untuk memilih agama sendiri...that's just too weird.
O iya tadi di winkel aku ketemu cewek, umur skitar 17/18an tahun. Pake celana yg kaya clana senam jaman sd super pendek, pake kaos ketat yg lebih model2 nachthemd ato di indo biasa disebut bahan androk, pake aseroris buanyak, rambutnya acak2an...tp itu bkn masalah, yg aku ngeri liat bajunya...lha wong pantatnya sampe keliatan...kalo itu anakku, ga sampe keluar rumah dia....idih

Thursday, August 28, 2008

kerja seminggu 5 hari

pada saat2 seperti sekarang ini, bekerja di tempatku adalah mimpi buruk. Sebagian besar kolegaku liburan sementara pelanggan tidak berkurang, justru bertambah. Yang normalnya kita kerja sehari minimal orang 7, sekarang jadi cuma berempat...oh my God......kakiku rasanya pegel polll.
Tapi untungnya bu bos yg cerewet lg liburan juga jdnya rada rileks. Minggu depan kerja 5 hari seminggu (normal cm 3 hari), jadi siap2 weekend tebal....tp Wil janji kalo aku kerja 5 hari, dia yg bakal setrika..hihihihi

Saturday, July 12, 2008

uang

Ini cerita ttg seorang kenalan. Wanita, 27 tahun, lulusan D1 bahasa inggris, ayahnya pergi meninggalkan keluarga (dia selalu bilang tidak punya ayah, semua temannya mengira ayahnya meninggal), punya 2 kakak lelaki semua sudah menikah, adik perempuan berusia 18 tahun tidak tamat SMU karena malas skolah (bukan karena tidak ada biaya), ibunya mantan TKI tp dipulangkan karena sakit.
Kenalan tadi pergi ke luar negeri karena usaha dan keberuntungan. Jauh dari keluarga dia menemukan kebebasannya. Punya uang sendiri dan akhirnya bisa sedikit memikirkan diri sendiri. Keluarganya di kampung setiap saat meminta uang, mereka pikir kerja di luar negeri mudah dan dapat uangnya gampang. Padahal kenalan tadi harus bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam dengan gaji yang standar cuma cukup dibuat makan selama 2 minggu, tapi keluarga tidak mau tahu itu. Kenalan tadi mulai kenal dengan pria2, banyak yg baik tapi dia hanya mencari satu kriteria...yang beruang. Pada akhirnya dia bertemu seorang pria, usia 42th, tidak punya pekerjaan tetap, mereka punya hubungan tapi kenalan tadi tidak pernah diajak ke lingkungan si pria, dijanjikan macam2 tp pada kenyataannya nol. Mereka akan menikah (katanya). Bilaa ditanya knapa mau menikah dgn pria itu, dia jawab biar bisa balik ke luar negri dan kerja. Kalau ditanya nanti kamu tidak bahagia menikah dengan pria yg tidak benar, dia jawab tidak apa2 tidak bahagia yang penting banyak uang.
Kasian sekali, di usianya yang masih 27th dia sudah begitu terobsesinya dengan uang. Tahukan dia bahwa ada saat2 tertentu dimana kita merasa bukanlah segalanya. Kasian

bahagia

apa benar kita punya syarat agar bisa bahagia...?? harus punya ini dan itu dulu baru bisa bilang bahagia atau sebenarnya kita bisa saja bahagia dengan apa yang kita punya cuma kita sendiri yang bikin batasan2 agar kebahagiaan kita tertunda.
bingung sekali membaca dan memahaminya, sebenernya aku cuma sedang tidak bahagia karena satu kolega yang memang menyebalkan. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu menyebalkan, setiap saat. Tadinya aku pikir aku yang salah, tidak bisa menyesuaikan diri di tempat baru tapi pada kenyataannya bukan aku saja yang komplain soal tingkah dia yang menyebalkan. Seorang teman pernah bilang bahwa aku beruntung karena punya suami bule, punya pekerjaan, bisa ngomong bahasa belanda dalam waktu setaun, punya uang, punya keluarga yang tidak pernah menuntut apa2 dan penuh kasih sayang. Pada kenyataannya aku anggap teman tadi naif sekali dan hanya melihat dari permukaan. Pada kenyataannya pula punya suami bule bukanlah suatu keberuntungan, itu adalah takdir. Biarpun punya suami lokal kalo kelakuannya bener ya tetep aja kita beruntung, punya suami bule kalo kurang ajar ya sama aja njebot. Aku punya pekerjaan karena berkali kali nglamar kerja, menunggu, interview dan ditolakpun pernah sebelum akhirnya diterima. Aku bisa ngomong bahasa belanda lancar dalam setaun setelah belajar tiap hari, berlatih, dibela2in kursus sampe pulang jam 12 malem belom sepedaannya di kala winter lebih merana lagi. Aku punya uang karena aku kerja keras, nabung. Aku punya keluarga yang baik lagi2 itu takdir. Kalo sebanyak itu alasan yang diperlukan untuk merasa beruntung dan bahagia, kapan kita bisa benar2 bahagia. Padahal kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang, kebahagiaan bisa diciptakan..tinggal kitanya aja.

Monday, May 12, 2008

sudah betah