Ini cerita ttg seorang kenalan. Wanita, 27 tahun, lulusan D1 bahasa inggris, ayahnya pergi meninggalkan keluarga (dia selalu bilang tidak punya ayah, semua temannya mengira ayahnya meninggal), punya 2 kakak lelaki semua sudah menikah, adik perempuan berusia 18 tahun tidak tamat SMU karena malas skolah (bukan karena tidak ada biaya), ibunya mantan TKI tp dipulangkan karena sakit.
Kenalan tadi pergi ke luar negeri karena usaha dan keberuntungan. Jauh dari keluarga dia menemukan kebebasannya. Punya uang sendiri dan akhirnya bisa sedikit memikirkan diri sendiri. Keluarganya di kampung setiap saat meminta uang, mereka pikir kerja di luar negeri mudah dan dapat uangnya gampang. Padahal kenalan tadi harus bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam dengan gaji yang standar cuma cukup dibuat makan selama 2 minggu, tapi keluarga tidak mau tahu itu. Kenalan tadi mulai kenal dengan pria2, banyak yg baik tapi dia hanya mencari satu kriteria...yang beruang. Pada akhirnya dia bertemu seorang pria, usia 42th, tidak punya pekerjaan tetap, mereka punya hubungan tapi kenalan tadi tidak pernah diajak ke lingkungan si pria, dijanjikan macam2 tp pada kenyataannya nol. Mereka akan menikah (katanya). Bilaa ditanya knapa mau menikah dgn pria itu, dia jawab biar bisa balik ke luar negri dan kerja. Kalau ditanya nanti kamu tidak bahagia menikah dengan pria yg tidak benar, dia jawab tidak apa2 tidak bahagia yang penting banyak uang.
Kasian sekali, di usianya yang masih 27th dia sudah begitu terobsesinya dengan uang. Tahukan dia bahwa ada saat2 tertentu dimana kita merasa bukanlah segalanya. Kasian
Saturday, July 12, 2008
bahagia
apa benar kita punya syarat agar bisa bahagia...?? harus punya ini dan itu dulu baru bisa bilang bahagia atau sebenarnya kita bisa saja bahagia dengan apa yang kita punya cuma kita sendiri yang bikin batasan2 agar kebahagiaan kita tertunda.
bingung sekali membaca dan memahaminya, sebenernya aku cuma sedang tidak bahagia karena satu kolega yang memang menyebalkan. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu menyebalkan, setiap saat. Tadinya aku pikir aku yang salah, tidak bisa menyesuaikan diri di tempat baru tapi pada kenyataannya bukan aku saja yang komplain soal tingkah dia yang menyebalkan. Seorang teman pernah bilang bahwa aku beruntung karena punya suami bule, punya pekerjaan, bisa ngomong bahasa belanda dalam waktu setaun, punya uang, punya keluarga yang tidak pernah menuntut apa2 dan penuh kasih sayang. Pada kenyataannya aku anggap teman tadi naif sekali dan hanya melihat dari permukaan. Pada kenyataannya pula punya suami bule bukanlah suatu keberuntungan, itu adalah takdir. Biarpun punya suami lokal kalo kelakuannya bener ya tetep aja kita beruntung, punya suami bule kalo kurang ajar ya sama aja njebot. Aku punya pekerjaan karena berkali kali nglamar kerja, menunggu, interview dan ditolakpun pernah sebelum akhirnya diterima. Aku bisa ngomong bahasa belanda lancar dalam setaun setelah belajar tiap hari, berlatih, dibela2in kursus sampe pulang jam 12 malem belom sepedaannya di kala winter lebih merana lagi. Aku punya uang karena aku kerja keras, nabung. Aku punya keluarga yang baik lagi2 itu takdir. Kalo sebanyak itu alasan yang diperlukan untuk merasa beruntung dan bahagia, kapan kita bisa benar2 bahagia. Padahal kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang, kebahagiaan bisa diciptakan..tinggal kitanya aja.
bingung sekali membaca dan memahaminya, sebenernya aku cuma sedang tidak bahagia karena satu kolega yang memang menyebalkan. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu menyebalkan, setiap saat. Tadinya aku pikir aku yang salah, tidak bisa menyesuaikan diri di tempat baru tapi pada kenyataannya bukan aku saja yang komplain soal tingkah dia yang menyebalkan. Seorang teman pernah bilang bahwa aku beruntung karena punya suami bule, punya pekerjaan, bisa ngomong bahasa belanda dalam waktu setaun, punya uang, punya keluarga yang tidak pernah menuntut apa2 dan penuh kasih sayang. Pada kenyataannya aku anggap teman tadi naif sekali dan hanya melihat dari permukaan. Pada kenyataannya pula punya suami bule bukanlah suatu keberuntungan, itu adalah takdir. Biarpun punya suami lokal kalo kelakuannya bener ya tetep aja kita beruntung, punya suami bule kalo kurang ajar ya sama aja njebot. Aku punya pekerjaan karena berkali kali nglamar kerja, menunggu, interview dan ditolakpun pernah sebelum akhirnya diterima. Aku bisa ngomong bahasa belanda lancar dalam setaun setelah belajar tiap hari, berlatih, dibela2in kursus sampe pulang jam 12 malem belom sepedaannya di kala winter lebih merana lagi. Aku punya uang karena aku kerja keras, nabung. Aku punya keluarga yang baik lagi2 itu takdir. Kalo sebanyak itu alasan yang diperlukan untuk merasa beruntung dan bahagia, kapan kita bisa benar2 bahagia. Padahal kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang, kebahagiaan bisa diciptakan..tinggal kitanya aja.
Subscribe to:
Posts (Atom)